LABUHA-Warga Desa Loleojaya Kecamatan Kasiruta Timur, mengeluhkan terus menyusutnya jatah minyak tanah subsidi yang diterima setiap kepala keluarga (KK). Pengurangan kuota yang terjadi secara bertahap dinilai dilakukan tanpa transparansi karena hingga kini masyarakat mengaku tidak pernah memperoleh penjelasan resmi dari pihak pangkalan.
Berdasarkan keterangan warga, pada awalnya setiap kepala keluarga menerima jatah 20 liter minyak tanah subsidi. Beberapa waktu kemudian kuota tersebut berkurang menjadi 15 liter, dan dalam penyaluran terakhir kembali dipangkas hingga hanya 10 liter per KK.
Kondisi tersebut memicu keresahan warga. Mereka mempertanyakan dasar pengurangan kuota, mengingat minyak tanah subsidi masih menjadi kebutuhan utama bagi banyak rumah tangga di Desa Loleojaya
Salah seorang warga, Arsad, mengaku kecewa karena setiap kali mengambil minyak tanah, masyarakat hanya diberitahu jumlah yang diterima tanpa penjelasan mengenai alasan pengurangan.”Dulu kami dapat 20 liter, lalu turun menjadi 15 liter, sekarang tinggal 10 liter per KK. Kami tidak pernah diberi penjelasan kenapa kuota terus dikurangi. Kalau memang ada aturan baru atau pasokan berkurang, sampaikan secara terbuka kepada masyarakat,” ujar Arsad.
Warga menilai, sebagai penyalur barang bersubsidi yang dibiayai negara, pangkalan seharusnya memberikan informasi secara terbuka terkait perubahan kuota agar tidak menimbulkan spekulasi dan kecurigaan di tengah masyarakat.
Masyarakat mendesak pemerintah daerah, aparat pengawas, dan instansi yang membidangi distribusi energi untuk segera turun tangan mengevaluasi penyaluran minyak tanah subsidi di Desa Loleojaya.”Kami berharap ada kejelasan mengenai penyebab berkurangnya kuota serta jaminan bahwa distribusi subsidi benar-benar dilakukan secara adil, transparan, dan sesuai ketentuan yang berlaku.”Harapnya
Pemkab Halsel dalam hal ini DPTPSP Halsel belum terkonfirmasi soal ijin pangkalan mita di Desa Loleojaya tersebut(ard/smr)













