Kementrian dan Lembaga IFAD Lakukan Kunjungan di Halbar

avatar Tidak diketahui

HALBAR-Rapat supervision mission yang bertujuan menilai program Transformasi Ekonomi Desa Terpadu (TEKAD) berlangsung di Kantor Bupati Kabupaten Halmahera Barat pada 19 Oktober 2026. Rapat tersebut melibatkan pemerintah desa, kementerian dan lembaga International Fund for Agricultural Development (IFAD).

Direktur Pengembangan Produk Unggulan Desa dan Daerah Tertinggal, Dewi Yuliani

menyampaikan seusai rapat, bahwa tujuan pertama adalah untuk melakukan pendampingan kepada masyarakat, melalui tenaga pendamping di tingkat kabupaten.

Ia juga menambahkan rapat ini juga memberikan dukungan melalui pembangunan Demonstrasi Plot (Demplot) atau lahan percontohan bagi kelompok usaha di sektor pertanian, perikanan, peternakan, dan perkebunan. “Kelompok masyarakat desa yang mengajukan proposal usaha akan mendapatkan pendampingan untuk pengelolaan dan pengembangan. Sehingga menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan usaha.” ujarnya.

Selain Demplot, ia menuturkan program TEKAD juga mendukung pembangunan enam Rumah Inovasi Teknologi Desa (RITD) yang di dalamnya terdapat dukungan untuk menunjang usaha masyarakat. Dan juga investment fund (dana investasi) yang bersifat kompetitif dengan usaha milik desa atau BUMDes yang mengelola usaha dalam program TEKAD. “Hingga saat ini, terdapat enam penerima manfaat melalui skema tersebut,” katanya.

Direktur itu mengatakan pelaksanaan supervision mission di Halmahera Barat bukan kali pertama dilakukan. Pada tahun sebelumnya, evaluasi serupa juga telah dilaksanakan dan menghasilkan penilaian yang cukup positif terhadap perkembangan program.”Respons masyarakat terhadap pelatihan dan pendampingan dinilai baik. Sejumlah usaha masyarakat juga menunjukkan perkembangan yang dinilai positif dibandingkan dengan daerah lain yang menjalankan program serupa,” katanya.

Sehingga hasil tersebut menjadi salah satu pertimbangan untuk mendorong Halmahera Barat sebagai lokasi pembelajaran bagi daerah lain. Dewi menyampaikan, karena program telah berakhir, praktik baik yang berhasil dibangun perlu didokumentasikan untuk menunjukkan hasil pelaksanaan program sekaligus menjadi referensi bagi pengembangan program sejenis di wilayah lain.“Karena program ini sudah berakhir, kita perlu menunjukkan praktik baik yang telah dilaksanakan. Salah satunya di Halmahera Barat. Kami ingin membawa pengalaman ini sebagai laporan kepada IFAD sekaligus menceritakannya kembali kepada daerah lain,” ujarnya.

Ia mengatakan Halmahera Barat bahkan direncanakan menjadi lokasi kunjungan pembelajaran bagi perwakilan proyek IFAD dari enam negara yang berasal dari kawasan Asia, Afrika, dan Pasifik, termasuk Fiji, Ghana, China, dan India “Kunjungan itu direncanakan untuk melihat secara langsung lokasi pelaksanaan program yang sebelumnya dinilai menunjukkan perkembangan baik. Dengan demikian, pengalaman Halmahera Barat diharapkan dapat menjadi bahan pertukaran pengetahuan dan pembelajaran lintas negara,” tutupnya(ard/smr)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *