LABUHA-Kelompok Penerima Bantuan (KPB) Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) Desa Waigitang, Kecamatan Pulau Makian, Kabupaten Halmahera Selatan, melaksanakan panen perdana tanaman tomat yang dikembangkan melalui lahan demplot pada hari Jumat (⅞) 2026 dengan seluas kurang lebih 1,5 hektar
Panen perdana tersebut menjadi salah satu momentum penting bagi KPB dan masyarakat Desa Waigitang dalam melihat secara langsung hasil pengembangan usaha pertanian melalui Program TEKAD. Kegiatan panen berlangsung bersama berbagai unsur pemerintahan dan pendamping pertanian, sekaligus menjadi ruang evaluasi terhadap hasil produksi dan tantangan yang dihadapi petani di lapangan.
Panen tersebut dihadiri Camat Pulau Makian, Pemerintah Desa dan BPD Waigitang, BPP ( Badan Penyuluh Pertanian) Kecamatan Pulau Makian, Fasilitator Kabupaten dan Fasilitator Kecamatan serta para Kader Desa se-Kecamatan Pulau Makian yang turut berpartisipasi dalam kegiatan panen bersama.
Ketua KPB Desa Waigitang, M. Jabir Muhammad mengucapkan banyak terimah Kasih kepada Halid Kader selaku PIC Zona Makian, Mudais Abdullah, dan Arifandi A Hi Soleman selaku Fasilitator Kecamatan atas bimbingan dan mutivasi sampai ke Tahapan Panen. M jabir menjelaskan bahwa lahan yang disiapkan untuk pengembangan tanaman tomat mencapai sekitar 1,5 hektare, dengan jumlah tanaman kurang lebih 14.000 pohon.
Menurut Jabir, sejak awal kelompok memiliki target produksi yang cukup besar. Dalam kondisi pertumbuhan tanaman yang optimal dan tidak menghadapi tekanan musim kemarau, produksi diperkirakan dapat mencapai sekitar 20 Ton.”Kalau kondisi tanaman normal dan tidak diperhadapkan dengan musim kemarau, kami menargetkan produksi bisa mencapai sekitar 20 ton,” ujarnya
Dia mengatakan Target tersebut, dihitung berdasarkan asumsi produktivitas tanaman yang dikembangkan. Dengan pembibitan 15.000 Pohon Anakan, akan tetapi yang di tanam sekitar 14.000 pohon, potensi produksi sebenarnya cukup besar apabila tanaman mendapatkan kebutuhan air dan perawatan yang optimal. Namun, kondisi di lapangan berkata lain. Musim kemarau menjadi salah satu faktor utama yang menekan produktivitas tanaman tomat KPB Desa Waigitang. Ketersediaan air yang terbatas membuat pertumbuhan dan perkembangan buah tidak mencapai potensi maksimal sebagaimana yang telah diproyeksikan sebelumnya. Akibat kondisi tersebut, hasil pada panen perdana hanya mencapai sekitar 2 ton. Jumlah ini jauh di bawah target awal yang diproyeksikan dalam kondisi normal.
Meski demikian, KPB tidak berhenti pada hasil panen perdana. Kelompok masih optimistis bahwa total produksi hingga seluruh tanaman selesai dipanen dapat mencapai sekitar 8 ton. Dengan asumsi harga jual tomat berada pada kisaran Rp15.000 per kilogram, apabila total produksi mencapai 8Ton, maka nilai pendapatan kotor yang berpotensi diperoleh KPB mencapai Rp 8.000 kilogram × Rp15.000 = Rp120.000.000. Angka tersebut menunjukkan bahwa komoditas tomat masih memiliki prospek ekonomi yang cukup menjanjikan bagi kelompok apabila produksi dapat dijaga dan akses pasar terus diperkuat. Kemarau Jadi Tantangan Utama
Hasil panen perdana KPB Desa Waigitang sekaligus memperlihatkan bahwa keberhasilan program pertanian tidak hanya bergantung pada jumlah tanaman dan luas lahan. Faktor alam, terutama ketersediaan air, menjadi tantangan serius yang harus diperhitungkan dalam pengembangan pertanian di wilayah kepulau Makian. Dengan luas lahan sekitar 1 ,5 hektar dan jumlah tanaman mencapai 14.000 pohon, kebutuhan air untuk mempertahankan produktivitas tanaman tentunya cukup besar. Ketika memasuki musim kemarau, kelompok menghadapi keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan air tanaman secara maksimal. Kondisi tersebut kemudian berdampak langsung terhadap hasil produksi. Karena itu, pengalaman KPB Desa Waigitang menjadi catatan penting bahwa pengembangan pertanian di Kecamatan Pulau Makian membutuhkan dukungan berkelanjutan, bukan hanya pada tahap penyediaan bibit dan penanaman, tetapi juga pada aspek pengairan, pendampingan teknis, pengendalian hama dan penyakit, pemupukan, hingga pemasaran hasil produksi.
Kehadiran BPP ( Badan Penyuluh Pertanian) Kecamatan Pulau Makian dalam kegiatan tersebut juga diharapkan dapat memperkuat pendampingan kepada kelompok agar persoalan teknis yang muncul selama proses budidaya dapat segera diantisipasi Kebutuhan Pasar Masih Tinggi
Di sisi lain, persoalan pemasaran justru belum menjadi hambatan utama bagi KPB Desa Waigitang. Hasil produksi tomat yang dipanen kelompok saat ini masih dipasarkan di sekitar wilayah Kecamatan Pulau Makian. Menurut keterangan kelompok, permintaan tomat di wilayah tersebut masih tergolong tinggi. Bahkan, produksi yang dihasilkan KPB diperkirakan belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat di Kecamatan Pulau Makian.Kondisi ini menunjukkan adanya peluang ekonomi yang cukup besar. Jika produksi dapat ditingkatkan dan kualitas tomat tetap terjaga, komoditas tersebut berpotensi menjadi salah satu produk unggulan pertanian yang mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal sekaligus meningkatkan pendapatan anggota kelompok.
Ketersediaan pasar yang sudah terbentuk di tingkat kecamatan juga menjadi modal penting bagi kelompok untuk mengembangkan usaha secara lebih serius. Namun, peluang tersebut harus dibarengi dengan peningkatan produktivitas. Sebab, tingginya permintaan pasar tanpa diikuti peningkatan produksi dapat menyebabkan kebutuhan masyarakat tetap bergantung pada pasokan dari luar wilayah.
Program TEKAD Didorong Tidak Berhenti pada Panen perdana ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk mengevaluasi sejauh mana intervensi Program TEKAD mampu memberikan dampak ekonomi kepada kelompok penerima bantuan.
KPB Desa Waigitang telah menunjukkan bahwa lahan pertanian dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan kelompok. Akan tetapi, hasil panen perdana juga memberikan gambaran bahwa masih terdapat sejumlah tantangan yang harus diselesaikan secara bersama-sama.
Pemerintah desa, pemerintah kecamatan, penyuluh pertanian, pendamping program Tekad, serta kelompok tani perlu membangun koordinasi yang lebih kuat agar persoalan yang dihadapi petani tidak berhenti pada saat panen. Khusus persoalan kemarau, diperlukan langkah antisipasi yang lebih konkret. Penguatan sumber air, sistem penyiraman, teknologi pengairan sederhana, serta perencanaan musim tanam perlu menjadi bagian dari strategi pengembangan demplot maupun usaha pertanian kelompok ke depan.
Dengan demikian, kelompok tidak hanya mampu melakukan penanaman dan panen, tetapi juga mampu mempertahankan produktivitas dalam menghadapi perubahan kondisi cuaca. Harapan untuk Petani Pulau Makian. Kegiatan panen perdana KPB Desa Waigitang memberikan pesan bahwa potensi pertanian di Kecamatan Pulau Makian masih terbuka luas. Tingginya kebutuhan tomat di pasar lokal merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Jika pada kondisi kemarau saja KPB masih mampu menghasilkan sekitar 2 ton pada panen perdana dan menargetkan total produksi sekitar 8 ton hingga seluruh panen selesai, maka potensi produksi pada kondisi cuaca yang lebih mendukung tentunya masih dapat dikembangkan. Ke depan, kelompok diharapkan tidak hanya mengejar peningkatan jumlah produksi, tetapi juga menjaga kualitas hasil, memperkuat manajemen kelompok, melakukan pencatatan keuangan secara tertib, serta membangun jaringan pemasaran yang lebih luas.
Panen perdana tomat Desa Waigitang akhirnya menjadi bukti bahwa Program TEKAD dapat membuka peluang usaha ekonomi masyarakat di tingkat desa, namun keberlanjutan program sangat bergantung pada kemampuan kelompok dalam mengelola usaha, dukungan pemerintah, pendampingan teknis, serta kemampuan menghadapi tantangan alam.
Bagi masyarakat Pulau Makian, tingginya permintaan tomat menjadi peluang yang harus dijawab dengan peningkatan produksi. Jika dikelola secara serius dan berkelanjutan, komoditas tomat tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal, tetapi juga berpotensi menjadi salah satu sumber pendapatan baru bagi masyarakat dan kelompok penerima manfaat Program TEKAD di wilayah Kecamatan Pulau Makian(smr)














